Cari Entri WADi

Memaparkan catatan dengan label Dakwah. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Dakwah. Papar semua catatan

Rabu, 27 Jun 2012

Ancaman Rasulullah Terhadap Pemakaian Wanita Islam



السلام عليكم





Zaman ini sangat berbeza dengan zaman Islam dulu kala. Zaman kegemilangan yang disebut "Zaman Keemasan Islam". Ketika itu syariat Allah begitu kukuh dan ampuh di hati dan sanubari ummah. Agama dirasakan begitu dekat pada diri seorang Muslim. Para Muslimah ketika itu pula adalah muslimah yang sejati, yang amat menjaga maruah dan kehormatan diri. Namun di zaman ini semua itu tampak sirna. Sekarang para wanita sudah ramai membuka aurat. Bukan hanya kepala yang dibuka atau lengan, yang di mana kedua bagian ini wajib ditutupi. Namun, sekarang ini sudah banyak yang berani menampakkan betis dan paha secara terang-terangan atau dengan menampakkan bentuknya melalui pakaian yang ketat lagi sendat.

Keadaan muslimah hari ini begitu parah. Saat ajaran Islam ditinggalkan, dipisahkan dari kehidupan, lalu hadirlah pengaruh luar dari musuh-musuh Islam menambahkan barah kepada ummat Islam.Kedatangan budaya kuning memberi impak yang begitu besar kepada muslim, lebih-lebih lagi terhadap sasaran utama mereka iaitu kaum hawa. Aspek pemakaian yang begitu ketara sekali jika dilihat pada hari ini. Jarum halus dari negara kuffar membawa revolusi dalam pakaian-pakaian wanita seluruh dunia. Jadi tidak hairanlah umat Islam juga menerima kesan yang sama. 

Benarlah sabda Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا


“Akan ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti bonggol unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian (jarak yang amat jauh).” (Riwayat Muslim no. 2128)


Hadith ini merupakan tanda mukjizat kenabian. Ia menggambarkan kejadian yang berlaku di masa hadapan, jauh dari zaman Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam dan para sahabat hingga ia tidak terbayang di akal fikiran mereka. Kedua golongan ini sudah ada di zaman kita saat ini. Hadith ini sangat mencela dua golongan semacam ini. Kerosakan seperti ini tidak muncul di zaman Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam karena sucinya zaman beliau, namun kerusakan ini baru terjadi setelah masa beliau hidup (Lihat Syarah Muslim, 9/240 dan Faidul Qodir, 4/275).


Kasiyatun ‘Ariyatun ( كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ )


An Nawawi dalam Syarh Muslim ketika menjelaskan hadith di atas mengatakan bahwa ada beberapa makna kasiyatun ‘ariyatun


1. Wanita yang mendapat nikmat Allah, namun enggan bersyukur kepada-Nya. 

2. Wanita yang mengenakan pakaian, namun kosong dari amalan kebaikan dan tidak mau mengutamakan akhiratnya serta enggan melakukan ketaatan kepada Allah. 

3. Wanita yang menyingkap sebagian anggota tubuhnya, sengaja menampakkan keindahan tubuhnya. Inilah yang dimaksud wanita yang berpakaian tetapi telanjang. 


4. Wanita yang memakai pakaian tipis sehingga nampak bagian dalam tubuhnya. Wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya telanjang. (Lihat Syarh Muslim, 9/240)


Pengertian yang disampaikan Imam An-Nawawi di atas, ada yang bermakna konkrit dan ada yang bermakna maknawi (abstrak). Begitu pula dijelaskan oleh ulama lainnya sebagai berikut:

Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah mengatakan, “Makna kasiyatun ‘ariyatun adalah para wanita yang memakai pakaian yang tipis yang menggambarkan bentuk tubuhnya, pakaian tersebut belum menutupi (anggota tubuh yang wajib ditutupi dengan sempurna). Mereka memang berpakaian, namun pada hakikatnya mereka telanjang.” (Jilbab Al Mar’ah Muslimah, 125-126)

Al-Munawi dalam Faidul Qodir mengatakan mengenai makna kasiyatun ‘ariyatun, “Hakikatnya memang wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya dia telanjang. Karena wanita tersebut mengenakan pakaian yang nipis sehingga dapat menampakkan kulit dan bentuk tubuhnya. Makna lainnya adalah dia menampakkan perhiasannya, namun tidak mahu mengenakan pakaian takwa. Makna lainnya adalah dia mendapatkan nikmat, namun enggan untuk bersyukur pada Allah. Makna lainnya lagi adalah dia berpakaian, namun kosong dari amalan kebaikan. Makna lainnya lagi adalah dia menutup sebagian badannya, namun dia membuka sebagian anggota tubuhnya (yang wajib ditutupi) untuk menampakkan keindahan dirinya.” (Faidul Qodir, 4/275)

Hal yang sama juga dikatakan oleh Ibnul Jauzi. Beliau mengatakan bahwa makna kasiyatun ‘ariyatun ada tiga makna. 


1. Wanita yang memakai pakaian tipis, sehingga nampak bagian dalam tubuhnya. Wanita seperti ini memang memakai jilbab, namun sebenarnya dia telanjang. 

2. Wanita yang membuka sebagian anggota tubuhnya (yang wajib ditutup). Wanita ini sebenarnya telanjang. 


3. Wanita yang mendapatkan nikmat Allah, namun kosong dari syukur kepada-Nya. 

(Kasyful Musykil min Haditsi Ash Shohihain, 1/1031) 


Kesimpulannya adalah kasiyatun ‘ariyat ialah wanita yang memakai pakaian tipis sehingga nampak bagian dalam tubuhnya dan wanita yang membuka sebagian aurat yang wajib dia tutup.


Tidakkah Engkau Takut dengan Ancaman Ini?

Lihatlah ancaman Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam. Memakaian pakaian tetapi sebenarnya telanjang, dikatakan oleh Rasulullah saallallahu ‘alaihi wasallam:


 لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

“wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (Riwayat Muslim no. 2128)

Perhatikanlah saudariku, ancaman ini bukanlah ancaman biasa. Perkara ini bukan perkara remeh-temeh yang boleh diabaikan. Dosanya bukan hanya dosa kecil. Lihatlah ancaman Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam di atas. Bukan sahaja wanita seperti ini dikatakan tidak akan masuk surga bahkan bau surga saja tidak akan diciumnya walaupun jarak bau syurga itu sudah dapat dihidu dari jarak yang sangat jauh. Tidakkah anda wahai Kaum Hawa, Wahai Muslimah, Wahai wanita Islam takut dengan ancaman seperti ini?

An Nawawi rahimahullah menjelaskan maksud sabda Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam: ‘wanita tersebut tidak akan masuk surga’. Inti dari penjelasan beliau rahimahullah

Jika wanita tersebut menghalalkan perbuatan ini yang sebenarnya haram dan dia pun sudah mengetahui keharaman hal ini, namun masih menganggap halal untuk membuka anggota tubuhnya yang wajib ditutup (atau menghalalkan memakai pakaian yang nipis), maka wanita seperti ini kafir, kekal dalam neraka dan dia tidak akan masuk syurga selamanya.  Dapat kita maknakan juga bahwa wanita seperti ini tidak akan masuk surga untuk pertama kalinya. Jika memang dia ahlu tauhid (seseorang yang benar akidahnya), dia nantinya juga akan masuk syurga. Wallahua'lam. (Lihat Syarah Muslim, 9/240)

Jika ancaman ini telah jelas, lalu kenapa sebagian wanita masih membuka auratnya di khalayak ramai dengan memakai pakaian yang menampakkan tubuhnya? Kenapa mereka begitu senangnya memamerkan betis,paha dan dada di hadapan orang lain? Kenapa mereka masih senang memperlihatkan rambut yang wajib ditutupi? Kenapa mereka masih menampakkan telapak kaki yang juga harus ditutupi? Kenapa pula masih memperlihatkan leher?!


Sadarlah, wahai saudariku! Bangkitlah dari kemalasanmu! Taatilah Allah dan Rasul-Nya! Mulailah dari sekarang untuk berubah diri menjadi yang lebih baik .... InsyaAllah.




والله أعلمُ بالـصـواب



Sabtu, 19 Mei 2012

Mencorakkan Anak Dengan Acuan Islam






السلام عليكم




Permulaan seorang anak yang soleh dan warak adalah daripada corakan yang menjaganya, atau lebih dekat lagi iaitu ibu dan bapanya. Maka apakah resepi yang menjadikan seseorang anak itu soleh? Nabi Muhammad SAW telah bersabda di dalam satu hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a dengan mafhumnya:


مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ وَيُشَرِّكَانِهِ

"Tidaklah seorang bayi yang dilahirkan melainkan dalam keadaan fitrah, maka Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, atau Nasrani atau Musyrik." (Hadis Riwayat di dalam sahih Muslim)


Sudah pastinya resepi permulaan seorang anak yang baik dan soleh adalah dari tangan kedua orang tuanya, bukan sekadar omongan kosong sahaja dan ia mestilah dimulakan dengan peringatan sejak anak itu kecil, daripada asas tonggak aqidah islam sehinggalah kepada akhlak dan membina sahsiah diri yang cemerlang. Tidak mungkin seorang anak itu mampu menjadi soleh tanpa bimbingan orang yang menjaganya kecuali para Nabi bukan? Maka wajarlah disini kita kata bahawa anak yang nakal dan jahat itu daripada didikan orang tuanya, atau kita tersalah? hasil pemerhatian ramai orang ilmuwan dalam bidang psychologi dan kaunseling mengatakan purata anak yang bermasalah bermula daripada kegiatannya di rumah, iaitu didikan awalnya di rumah itu yang membina dirinya siapa bila remaja dan dewasa nanti.

Jadi kita perlu mengimbas kembali kepada didikan awal, sama ada menurut tatacara yang berada di atas garis lurus atau tidak, namun di zaman moden ini kita dapat lihat bahawa ada satu adat yang menjadi trend zaman sekarang iaitu ibu bapa yang mempunyai anak bermasalah terus meminta para bomoh/ustaz/tokdukun untuk mengubatinya kembali menjadi baik, ini bukan kes terpencil tetapi sudah menjadi adat. Kita hanya mampu mengucapkan "masyaallah" , mengapa jalan ini yang di ambil, jika begitu tak perlu lah kita mendidik anak sendiri menjadi soleh, pergi sahaja ke tukang dukun minta bacakan doa dan jadikan anak baik selamanya. Begitu senanglah ... 


ALASAN IBU BAPA ADALAH SIBUK DAN TIADA MASA UNTUK MENCURAH KASIH SAYANG

Kita kadangkala memikir sebentar kesian melihat fenomena alam duniawi sekarang ini, kesian kepada ibu bapa dan anak yang sama-sama tidak punya satu garis lurus untuk membina jalinan erat kebahagiaan rumahtangga. Ibu bapa beralasan bahawa "sibuk bekerja untuk keluarga" kita fikir sejenak, apakah yang dinamakan bekerja untuk keluarga? kadangkala ada kita lihat bekerja itu mati-matian daripada menumpukan hal rumahtangga sendiri, dan akibat dari ini mula berlaku isteri curang, anak derhaka dan buat masalah serta suami yang dayus. Datang di bilik kaunseling, anak murid mengadu masalah dan meminta untuk selesaikan masalah, tetapi apabila ditanya, jawapan sering dengar adalah " ayah dan ibu sibuk tak sempat hendak itu ini" 

Maka salah siapakah? telah di sebut dalam satu hadis 

Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:Bahwa Aqra` bin Habis pernah melihat Nabi saw. sedang mencium Hasan. Dia (Aqra` bin Habis) lalu berkata: Sesungguhnya aku mempunyai sepuluh orang anak namun aku tidak pernah mencium satupun dari mereka. Kemudian Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya barang siapa yang tidak menyayangi maka dia tidak akan disayangi. (Sahih Muslim No.4282)

Kasih sayang itu bermula daripada orang terdekat di rumah, maka anak itu perlu kasih sayang siapa jika bukan kedua orang tuanya? jika alasan "sibuk tak sempat" itu menjadi modal, maka tak perlu untuk kita kesal apabila anak kita menjadi rusak dan bermasalah!



NASIHAT, DIDIK DENGAN PERINGATAN KEPADA ANAK AMALAN ORANG SOLEH

Dapat diambil iktibar tentang kisah Luqman yang terkenal di dalam surah al-luqman di dalam al-quran itu. Luqman adalah seorang berbangsa abshi yang berkulit hitam dan telah beriman kepada Allah, kisahnya Allah memasukkan salah satu surah di dalam al-quran untuk buat teladan umat islam semua. Kebanyakannya ayat-ayat di dalamnya berkenaan si ayah yang menasihati anaknya dalam satu peringkat ke satu peringkat.

metodnya:

1. Bertaqwa kepada perintah Allah dan Rasul
2. hindari sejauh-jauhnya diri daripada sekutu akan Allah (syirik aqidah)
3. mendirikan amalan seperti solat dan perkara wajib yang lain
4. memperingatikan tentang azab neraka dan nikmat syurga
5. menyuruh agar berbuat baik kepada orang tua meskipun mereka mengajarkan perkara yang menyanggah landasan islam
6. elakkan diri dari sombong dan riak


menasihati dengan cara baik bermula daripada perkataan,


وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kelaliman yang besar". (al-luqman ayat 13)



يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الأمُورِ

Hai anakku, dirikanlah solat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). (al-Luqman ayat 17)



يا طفلي، اذكروا الله (قبل وجبات الطعام)، وتناول الطعام مع يدك اليمنى، وأكل (الغذاء) التي يتم أمام

“Wahai anak kecil, sebutlah nama Allah (sebelum makan), dan makanlah dengan tangan kananmu, serta makanlah (makanan) yang ada di hadapanmu.“ ( Hadits shahih riwayat Al-Bukhari no. 5061, dan Muslim no. 2022.)


juga daripada Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma,


طفلي،'أريد أن تعلم بعض الجمل (نصيحة) لك، ورعاية (القيود / القوانين) من الله، وأنه سوف يرعاك، ورعاية (القيود /القوانين) من الله، وسوف تجد له قبل. 

“Wahai anak kecil, sesungguhnya aku ingin mengajarkan beberapa kalimat (nasihat) kepadamu: jagalah (batasan-batasan/ syariat) Allah maka Dia akan menjagamu, jagalah (batasan-batasan/ syariat) Allah maka kamu akan mendapati-Nya dihadapanmu.” (Hadis riwayat At-Tirmidzi no. 2516, Ahmad: 1/293), dan lain-lain; dinyatakan shahih oleh Imam At-Tirmidzi dan Syekh Al-Albani dalam 
Shahihul Jami’ish Shagir, no. 7957.)


{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ}

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” (QS at-Tahriim:6).

Demikian dengan cara lembut dan sentiasa menasihati dari awal, lama-kelamaan itu menjadi satu kebiasaan mereka untuk terus mengikuti akhlak dan agama islam yang sahih serta menjadi soleh dikalangan ramai.


BERDOA KEPADA ALLAH SUPAYA DIKURNIAKAN ANAK YANG SOLEH DAN DITUNJUK AJAR OLEH ALLAH

Sebelum kita mula melangkah ke alam dewasa mendirikan rumah tangga, adalah sangat wajib untuk kita berilmu, membinaa kekuatan iman dan taqwa kepada Allah. 

persiapan awal

1. bertaqwa sentiasa
2. memantapkan iman
3. menuntut ilmu sentiasa kerana ini pegangan kukuh

mari bersama-sama doa kepada Allah!


رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. (al-baqarah ayat 128)


وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (al-furqan ayat 74)


رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

"Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. (al-shaffaat ayat 100)



والله أعلمُ بالـصـواب

Rabu, 4 April 2012

Mengikuti Jejak Para Sahabat dan Salafussoleh



السلام عليكم




Umat Islam digesa ikut cara sahabat,tabiin dan salafussoleh untuk capai kesempurnaan hidup.


MENUNTUT ilmu agama tidak cukup dengan hanya bermodalkan semangat. Seseorang Muslim patut mengetahui juga segala bentuk prinsip asas dan cabangnya seperti digariskan syariat yang sempurna. Tujuannya supaya seseorang Muslim itu tidak kebingungan dalam menghadapi seruan daripada kepelbagaian kelompok dakwah. Apa yang penting, mereka tidak mudah terjerumus ke arah pemahaman menyeleweng. 

Dewasa ini ada banyak ‘ruang’ dan ‘jalan’ ditawarkan bagi mempelajari agama Islam. Sudah pasti semua pihak mendakwa cara dan gaya mereka adalah yang terbaik dan paling benar. Melalui pelbagai cara dan gaya ini jugalah mereka berusaha menambat pengikut seramai boleh.

Lihatlah dalam masyarakat kita sendiri, ada pihak menawarkan cara dengan motivasi diri dan hati, ada mengajak untuk ikut serta dalam persoalan politik, ada golongan menyeru supaya segera mendirikan Khilafah Islamiyah kali kedua, ada secara santai menantikan kehadiran al-Mahdi dan ada pula bermusafir dari satu tempat ke tempat lain mengajak manusia untuk berjemaah di masjid. Tetapi, cuba perhatikan di persekitaran tempat tinggal dan masyarakat sekeliling kita. Keadaan masyarakat Islam masih lagi pada takuk lama, terutama bagi mereka yang tidak mempunyai objektif hidup dan tidak mengerti kerana apa mereka dihidupkan di atas muka bumi ini. 

Pada jiwa dan sanubari mereka, tiada perkara penting melainkan kemewahan hidup. Kejahilan masih lagi menyelimuti seolah-olah mereka akan hidup kekal di dunia ini. Bahkan, keluarga serta sanak saudara terbabit pelbagai isu keruntuhan akhlak dan kebejatan moral yang bertambah parah. Adakah perkara yang salah dalam tindakan mereka? Jawapannya sudah pasti ada yang salah, apabila kita dapat menyaksikan saban hari berlaku pelbagai kepincangan di sisi umat yang semakin jauh daripada panduan diserukan Islam.

Golongan Ahli Sunnah yang menjadi pewaris Nabi SAW sering kali menyeru dan tetap berusaha mengamalkan apa diwasiatkan Rasulullah dalam mengajak umat Islam kembali mempelajari agamanya. Dalam pelbagai situasi yang ditempuhi, Ahli Sunnah tidak akan keluar dari jalan yang dilandaskan berdasarkan sunnah Rasulullah SAW untuk mengambil dan memahami apa yang ditunjukkan Nabi SAW dalam persoalan agama.

Keselarasan kita dalam menurut segala aspek ditonjolkan Nabi SAW berdasarkan hadis diriwayatkan ulama hadis sejak dulu adalah sesuatu yang utama dalam kehidupan seorang Muslim. Inilah yang sebenarnya sangat diperlukan oleh umat Islam. Justeru, untuk mencapai kesempurnaan ilmu agama, seseorang Muslim perlu memahami ajaran agama yang dianuti sejak sekian lama dan berpegang kepada perkara asas mencari ilmu antaranya:

l. Mengambil ilmu agama daripada sumbernya yang asal. Sumber utama ilmu Islam yang menjadi prinsip asasnya adalah berpandukan kepada petunjuk al-Quran dan al-Sunnah. Hal ini jelas difahami daripada firman Allah yang bermaksud:




اتَّبِعُوا مَا أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءَ 


“Ikutilah daripada apa yang diturunkan kepada kamu semua oleh tuhan kamu (Allah) dan janganlah kamu mengikuti panduan selain-Nya.” (Surah al-A’raf, 7:3)

Rasulullah SAW pula bersabda yang bermaksud: “Ketahuilah bahawasanya aku diberi al-Quran dan yang serupa dengannya.” ( Riwayat Ahmad dan Abu Daud)

l Memahami al-Quran dan al-Sunnah sesuai dengan pemahaman golongan salafussoleh. Golongan salafussoleh yang dimaksudkan adalah sahabat serta orang yang mengikuti mereka dari kalangan tabiin dan generasi selepas mereka.

Hal ini jelas seperti sabda Nabi SAW yang bermaksud:


خيركم قرني ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم
“Sebaik-baik manusia adalah generasiku kemudian generasi yang datang setelah mereka, kemudian generasi lain yang datang setelah mereka.” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)


Golongan salafussoleh atau generasi awal Islam ini perlu diteladani memandangkan segala kebaikan yang berada pada mereka adalah kebaikan mencakup segala hal berkaitan agama, sama ada daripada aspek keilmuan, pemahaman, pengamalan dan strategi dakwah berkesan.

Ibn al-Qayyim pernah merumuskan bahawa: “Nabi SAW pernah menyatakan bahawa sebaik-baik generasi adalah generasinya secara mutlak. Itu bermaksud merekalah yang paling utama dalam segala bentuk kebaikan. Jika bukan yang sedemikian, sudah pasti mereka adalah golongan yang baik dari beberapa aspek saja (seperti generasi lain) dan mereka sudah pasti bukan tergolong sebaik-baik generasi secara mutlak.”

Dengan demikian, pemahaman mereka terhadap agama sudah dijamin oleh Nabi SAW tanpa perlu meraguinya lagi bahawa kebenaran itu pasti bersama mereka. Kewajaran ini jelas kerana mereka adalah golongan yang paling mengetahui selok-belok ajaran Islam selepas Nabi SAW. Bahkan, mereka menyaksikan sendiri di mana dan bilakah turunnya wahyu serta mengetahui kaitan peristiwa terlafaznya sesebuah hadis. Keadaan sebegini sudah tentu membuatkan ulama selepas era mereka sangat menghormati generasi terbaik ini.

Oleh demikian, sesetengah ulama sendiri menyatakan bahawa jika sahabat bersepakat terhadap sesuatu urusan, maka menjadi kesalahan bagi seorang Muslim berselisih dengan kesepakatan mereka. Jika mereka sendiri berselisih pendapat dalam sesuatu urusan agama, maka seseorang Muslim itu tidak boleh mencari pendapat lain daripada mengetahui titik perselisihan mereka. Ini bermaksud bagi seorang Muslim, beliau harus memilih salah satu daripada pendapat mereka dan tidak boleh membuat pendapat yang lain di luar pandangan mereka.

Berkata Imam Syafie:

Mereka (sahabat) adalah golongan paling tinggi berbanding dengan kita dari segala aspek keilmuan, ijtihad, warak (sikap penuh berhati-hati), berakal dan pada setiap perkara yang mendatangkan ilmu atau diambil daripada mereka ilmu. Pendapat mereka lebih baik dan lebih utama buat kita dari pandangan kita sendiri…”

Jika kita mampu kembali ke arah tatacara pelaksanaan yang dilandaskan generasi terbaik ini dalam mengkaji usul agama, sudah pasti kita mampu mengubah masyarakat dan membetulkan mereka dengan sandaran petunjuk Ilahi.

Kesatuan dan kesepaduan yang dijalinkan berasaskan hujah dan contoh teladan itu pasti mampu menghindarkan umat Islam daripada pengaruh kesesatan. Perkara ini sudah dijamin Nabi Muhammad SAW dalam sabdanya yang bermaksud:


“Sesungguhnya Allah melindungi umatku dari berkumpul di atas kesesatan.” (Riwayat Abu Daud, Ibn Majah dan Ibn Abi Asim)

Oleh : Ustaz Fikri Alamghiri & WADi




والله أعلمُ بالـصـواب

Rabu, 14 Mac 2012

Agama Islam Itu Adalah Nasihat (Ikhlas)



السلام عليكم


 

 عن أبي رقية تميم بن أوس الداري رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : الدين النصيحة قلنا : لمن ؟ قال : لله ولكتابه ولرسوله لأئمة المسلمين وعامتهم - رواه مسلم 

Daripada Abiu Ruqayyah Tamim Bin Aus al-Dary r.a berkata, Rasulullah s.a.w bersabda : Agama itu nasihat. Kami berkata : Bagi siapa ? Baginda s.a.w bersabda : Bagi Allah, bagi Kitab-Nya, Bagi Rasul-Nya dan bagi pemimpin-pemimpin kaum muslimin dan orang-orang awam mereka.( HR Muslim )

Beberapa pengajaran yang dapat kita ambil dari hadith sahih diatas, ialah :

1. Agama yang dimaksudkan disni adalah agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Firman Allah :


إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الإِسْلاَمُ ۗ
 "Sesungguhnya agama disisi Allah(yang diredhai Allah) adalah Islam". (Ali Imran,3:19)



وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
"Barangsiapa mencari agama selain Islam, nescaya Allah tidak akan menerimanya, dan di akhirat dia pasti termasuk golongan yang rugi". (Ali Imran,3:85)


 Berkata Luqman Al-Hakim : "Jika di dunia ini kamu memiliki hanya satu, maka satu-satunya itu hendaklah agama". Pepatah Arab ada menyebutkan : "Manusia tanpa agama, bagaikan kuda tanpa kekang (hidup liar dan tidak terkawal)".

2. Islam adalah nasihat. Maksudnya : Agar kehidupan manusia terkawal maka agama sangat berguna untuk mengawal agar ia menjadi insan yang baik dan sempurna dan selanjutnya mendapat keredhaan Allah. Agama sangat berperanan membimbing manusia agar menjadi insan yang cemerlang dan bahagia di dunia dan di akhirat. Dan kita mesti ingat bahawa rujukan utama agama Islam adalah Al-Quran dan Sunnah Rasul SAW. 


3. Ketika Nabi SAW ditanya : Bagi siapa ? Lalu baginda SAW menjawap : Bagi Allah. Ini tidak bermaksud Allah memerlukan nasihat ! tetapi maksudnya : Kita mestilah beriman dan mentauhidkan Allah, jangan buat syirik, buat suruhanNya dan jauhi laranganNya, mensyukuri nikmatNya dan mengharap redhaNya; Bagi KitabNya, yakni beriman kepada Al-Quran dan menjadikannya sebagai panduan hidup; Bagi RasulNya, beriman kepada Nabi Muhammad SAW, mencintainya, dan menjadikannya sebagai role model dan teladan dalam segala urusan agama, mencintai sesiapa yang mencintainya dan memusuhi sesiapa saja yang memusuhinya dan sunnahnya.

4. Adapun maksud bagi pemimpin-pemimpin kaum muslimin pula ialah menolong dan menyokong mereka dalam perkara-perkara kebenaran dan keadilan serta patuh kepada mereka dalam urusan kebenaran. Tegur mereka dengan cara yang baik serta berhikmah dan ingatkan mereka ketika lalai melaksanakan kewajipan. Sedangkan bagi orang awam kaum muslimin pula, ialah membimbing mereka ke jalan yang benar, mengawasi mereka daripada jalan yang salah atau sesat, bertolong-tolongan dalam perkara-perkara kebaikan dan ketakwaan, saling hormat menghormati dan saling sayang menyayangi. 

4. Walau nasihat itu berguna, namun jika tersalah caranya boleh membawa bencana. Oleh itu, ketika memberi nasihat kita perlu bijaksana dan tahu caranya. Pepatah Arab ada menyebut: " Memberi nasihat di khalayak ramai adalah suatu penghinaan". Rasulullah SAW bersabda : Hak muslim terhadap muslim lain ada enam, (satu diantaranya) : "Jika salah seorang saudara seagamamu meminta nasihat, maka berilah dia nasihat" (Riwayat Muslim). Hanya saja menurut Imam Al-Nawawi dalam syarahannya : Nasihat perlu diberikan kepada muslim jika dia meminta nasihat, hanya dalam hal-hal keduniaan seperti pertanyaannya tentang pribadi orang yang dia ingin menjadikannya sebagai rakan kongsi dalam urusan perniagaan, tetapi jika kita melihat kesalahan dalam urusan agama, maka kita wajib menegurnya atau memberinya nasihat walaupun muslim itu tidak meminta nasihat. 

5. Nasihat menurut bahasa Arab memilki tiga makna :Pertama ialah menjahit/menampal : ( نَصَحَ الثَّوْبَ ) : Dia menjahit/menampal baju; kemudian Menyaring/menapis ( نَصَحَ العَسْلَ ) : Dia menyaring/menapis madu; dan seterusnya Ikhlas ( تَوْبَةً نَصُوْحًا ) : Taubat yang ikhlas. Jika kita rangkumi ketiga-tiga makna tersebut, maka suatu nasihat mestilah memenuhi tiga sifat, iaitu : Pertama nasihat mestilah ke arah memperbaiki atau kesempurnaan diri orang yang dinasihati sebagaimana peranan jahitan atau tampalan baju yang koyak. Kemudian ketika memberi nasihat hendaklah menggunakan kata-kata yang baik-baik atau ditapis dan diseleksi, bukan asal cakap yang boleh menyinggung perasaan orang yang dinasihati. Dan ketiga suatu nasihat hendaklah diberi dengan niat yang ikhlas, bukan cari pengaruh atau pujian atau keuntungan duniawi.

6. Muslim/muslimat jika mendapat nasihat dari seseorang, sama ada dari Ibu Bapa, para guru, para ustaz atau para ulama dan pendakwah, hendaklah menerimanya dengan baik dan berusaha untuk mematuhinya. Lebih-lebih lagi jika nasihat itu memenuhi semua kriteria di atas dan berdasarkan Al-Quran dan Sunnah Rasul.  Oleh itu, umat Islam tidak seharusnya memilki sifat kafir tersebut, tetapi selalu " Sami'naa Wa Ata'naa ". Allah SWT menggambarkan ciri-ciri orang kafir dalam  firmanNya : 


إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنذِرْهُمْ لاَ يُؤْمِنُونَ
Sesungguhnya orang-orang kafir itu, sama saja bagi mereka, engkau beri peringatan atau engkau tidak beri peringatan, mereka tetap saja tidak mau percaya (beriman) (Al-Baqarah,2 : 6)

7. Rasulullah s.a.w bersabda dalam wasiatnya sebelum wafat : " Bertakwalah kamu kepada Allah, dan dengarlah, dan patuhilah, walaupun yang menyampaikan (nasihat atau kebenaran itu) seorang hamba abdi berbangsa Habsy". Wasiat ini mengandungi pengajaran : 1. Untuk mencapai derjat takwa, seseorang itu mestilah suka mendengar dan mematuhi (kebenaran) yang didengarnya itu. 2. Kebenaran yang disampaikan wajib dipatuhi tanpa mengira siapapun yang menyampaikannya, walau dari orang yang tidak mempunyai status seperti hamba abdi berbangsa Afrika.


والله أعلمُ بالـصـواب

Selasa, 13 Mac 2012

Iftiraq (Perpecahan Umat Islam)



السلام عليكم



Al-Mukaddimah

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala, kami memujiNya, memohon pertolongan dan ampunan serta bertaubat kepadaNya. Kami berlindung kepadaNya dari kejahatan jiwa-jiwa kami dan dari keburukan amal-amal kami. Barangsiapa diberi hidayah oleh Allah, niscaya tiada seorangpun yang dapat menyesatkannya. Barangsiapa disesatkanNya, nisaya tiada seorangpun yang dapat memberinya hidayah. Saya bersaksi bahwa tida Ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata tiada sekutu bagiNya. Yang berfirman dalam kitabNya.

"Dan bahawa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya" (Al-An'am : 153)

Saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya. Yang telah memperingatkan umat dari musibah yang bakal terjadi, yakni bid'ah dan perpecahan, dalam sabda beliau.

Daripada Abu Sa’id al-Khudri r.a berkata, Rasulullah s.a.w bersabda:

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍا وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتّٰى لَوْدَخَلُوْا فِى جُحْرِضَبٍّ لَاتَّبَعْتُمُوْهُمْ، قُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ الْيَهُوْدُ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ: فَمَنْ؟
“Kamu akan mengikut jejak langkah umat-umat sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta sehinggalah jika mereka masuk ke lubang biawak pun, kamu akan mengikuti mereka”. Sahabat bertanya,” Ya Rasulullah, apakah engkau maksudkan itu adalah Yahudi dan Nasrani?”. Rasulullah s.a.w lalu bersabda: “Siapa lagi ?” (Muttafaq’alaih)

Wa ba'du

Perkara yang ingin dibahas oleh para ahli ilmu dan para penuntut ilmu sekarang ini dalah masalah Iftiraq iaitu"perpecahan umat!" Mafhumnya, etiologi serta solusinya. Masalah ini sangat perlu diketahui segenap kaum muslimin, lebih-lebih bagi para penuntut ilmu. Apalagi di zaman sekarang ini kelompok-kelompok ahli bid'ah mulai mengembangkan sayapnya. Hawa nafsu semakin menggila hingga menguasai manusia. Sehingga kejahatan dan kemunafikan merajalela ke segala penjuru.

Benar! Sekalipun majlis-majlis dan halaqah ilmu berada di mana-mana, namun kesesatan bid'ah-bid'ah juga semakin berkembang pesat. Memang pada hari ini ilmu banyak disebar, namun banyak yang tidak mendapat berkat dan faedah dari ilmunya. Barangkali karena ia menuntut ilmu tidak dari sumber aslinya, yaitu tidak berpandukan kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah serta athar para imam yang dijadikan panduan yang tersebar dalam karya-karya mereka. Atau barangkali mereka menimbanya bukan dari ahli ilmu, atau tidak mengikuti manhaj ahli ilmu dan ahli fiqh dalam menuntut ilmu.

Meskipun kemudahan menuntut ilmu terbuka luas pada hari ini, namun nikmat tersebut justru tampak negatif terhadap ummah. Mereka menjadi tergesa-gesa dalam menimba ilmu tidak sebagaimana mestinya! Di samping mereka merasa cukup tanpa harus belajar kepada para ulama. Tentu saja itu termasuk ilmu yang tidak bermanfaat. Rasulullah s.a.w telah berlindung diri dari hal semacam itu.[Dalam sebuah hadith riwayat, Muslim dari Zaid bin Arqam, Rasulullah s.a.w berkata dalam doanya : 'Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat'. Lihat Shahih Muslim kitab Az-Zikr haditsh no. 2723]

Ilmu yang mendatangkan keberkatan hanyalah ilmu yang diambil dari al-Quran dan as-Sunnah. Itulah pedoman utama yang merupakan jalan orang-orang yang beriman. Adapun hanya mencukupkan menuntut ilmu melalui medium seperti buku dan kaset sahaja memang memberi manfaat namun tentu manfaatnya hanya sedikit berbanding berguru dengan para ulama' atau guru yang benar ilmunya. Hal ini boleh menjadi penyebab munculnya bid'ah dan penyimpangan pemikiran serta perpecahan dan perselisihan dalam agama. 


Maksud Iftiraq (Perpecahan Umat ) 

Iftiraq berasal dari kata al-mufaraqah (saling berpisah), dan al-mubayanah (saling berjauhan), dan al-mufashalah (saling terpisah) serta al-inqitha' (terputus). Diambil juga dari kata al-insyi'ab (bergolong-golongan) dan asy-syuzuz (menyempang dari barisan). Boleh juga maksudnya memisahkan diri dari induk, keluar dari jalur dan keluar dari jama'ah.

Secara istilahnya, perpecahan adalah keluar dari As-Sunnah dan Al-Jama'ah dalam masalah usuluddin yang qat'ie, baik secara sepenuhnya maupun sebahagiannya. Baik dalam masalah i'tiqad ataupun masalah amaliyah yang berkaitan dengan usuluddin atau berkaitan dengan maslahat umat atau berkaitan dengan keduanya.

Daripada Abu Hurairah r.a berkata,Rasulullah s.a.w bersabda.

"Barangsiapa keluar dari ketaatan serta memisahkan diri dari jama'ah lalu mati, maka kematiannya adalah kematian secara jahiliyah. Barangsiapa berperang dibawah panji asabiyah, emosi karena asabiyah lalu terbunuh, maka mayatnya adalah mayat jahiliyah. Barangsiapa memisahkan diri dari umatku (kaum muslimin) lalu membunuhi mereka, baik yang soleh maupun yang fajir (fasiq) dan tidak menahan tangan mereka terhadap kaum mukminin serta tidak menyempurnakan perjanjian mereka kepada orang lain, maka ia bukan termasuk golonganku dan aku bukan golongannya" ( Riwayat Muslim)

Menyelisihi salah satu pedoman Ahlus Sunnah wal Jama'ah dalam aqidah dikiran sebagai perpecahan dan memisahkan diri dari jama'ah. Demikian pula melanggar ijma', mengeluarkan diri dari jama'ah serta imam yang mereka sepakati dalam hal-hal yang berkaitan dengan maslahat umum terhitung perpecahan dan memisahkan diri dari jama'ah. Siapa saja yang melanggar amalan sunnah yang disepakati kaum muslimin termasuk perpecahan. Sebab ia telah memisah dari jama'ah. Semua kekufuran akbar termasuk perpecahan, namun bukan setiap perpecahan tergolong kekufuran.

Maksudnya, setiap amalan ataupun keyakinan yangboleh mengeluarkan seseorang dari pokok ajaran Islam, dan dari hal yang qat'ie dalam agama ini juga dari sunnah dan jama'ah, dan hal ini semua dapat menggiringnya kepada kekufuran, maka perbuatannya itu disebut iftiraq (memisahkan diri). Namun tidak semua perpecahan itu tergolong kekufuran. Yakni, mungkin saja suatu kelompok atau sekumpulan manusia atau sebuah jama'ah keluar dari Ahlus Sunnah namun tidak dihukumi kafir. Sekalipun memisahkan diri dari jama'ah kaum muslimin dalam prinsip-prinsip tertentu, seperti kelompok Khawarij. Khawarij generasi pertama telah memisahkan diri dari kaum muslimin, bahkan mereka mengangkat senjata terhadap umat ini. Mereka memisahkan diri dari jama'ah serta membangkang terhadap imam kaum muslimin.

Walaupun begitu, para sahabat tidak menghukum mereka kafir, bahkan mereka berbeza pendapat dalam masalah ini. Ketika Imam Ali bin Abi Thalib r.a ditanya status mereka, beliau tidak menyatakan mereka kafir. Demikian pula Ibnu Umar r.a serta beberapa sahabat lainnya. Mereka juga bersedia solat dibelakang tokoh khawarij bernama Najdah Al-Haruriy. Begitupula Abdullah bin Abbas r.a , beliau membalas surat seorang tokoh Khawarij bernama Nafi' bin Al-Azraq dan mendebatnya dengan Al-Qur'an, sebagaimana hal itu lumrah dilakukan terhadap sesama kaum muslimin. (Minhajus Sunnah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah V/247-248)

[Kitab Al-Iftiraaq Mafhumuhu Ashabuhu Subulul Wiqayatu Minhu, Dr. Nashir bin Abdul Karim Al-'Aql]


والله أعلمُ بالـصـواب
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Makluman dari (WADi)


1. Selamat datang ke Laman WADi

2. Laman WADi adalah laman berbentuk ilmu pelbagai namun lebih menjurus kepada keagamaan.

3. Metod penulisan berdasarkan pelbagai sumber.Sumber utama adalah Al-Quran, Al-Hadith, Athar, dan Ijmak ulama' .

4. Pelawat bebas untuk follow atau tidak blog ini.

5. Pelawat dibenarkan untuk menjadikan WADi sebagai bloglist anda jika bermanfaat.

6. Anda dibenarkan untuk mengambil mana-mana artikel dan penulisan WADi dengan memberi kredit kepada WADi. Jika itu membuatkan anda berasa keberatan (memberi kredit kepada WADi, maka anda tidak perlu berbuat demikian). Asalkan ilmu itu sampai kepada semua. Terpulang kredibiliti anda sebagai penulis.

7. Tidak ada copyright di WADi, apa yang ditulis disini adalah untuk disampaikan. Ilmu itu milik Allah.

8. Penulis merupakan insan biasa yang banyak kesilapannya termasuk ketika menulis. Jika anda terjumpa sebarang kekeliruan, kesilapan berkaitan permasalahan hukum, dalil, hadith, atsar dan sebagainya , sila maklumkan WADi melalui email. Teguran secara baik amat kami hargai.

9. Hubungi saya melalui email : addien90@yahoo.com

10. Selamat membaca, menimba ilmu dan menyebarkan ilmu.

Klik Klik