Makluman dari (WADi)


1. Selamat datang ke Laman WADi

2. Laman WADi adalah laman berbentuk ilmu pelbagai namun lebih menjurus kepada keagamaan.

3. Metod penulisan berdasarkan pelbagai sumber.Sumber utama adalah Al-Quran, Al-Hadith, Athar, dan Ijmak ulama' .

4. Pelawat bebas untuk follow atau tidak blog ini.

5. Pelawat dibenarkan untuk menjadikan WADi sebagai bloglist anda jika bermanfaat.

6. Anda dibenarkan untuk mengambil mana-mana artikel dan penulisan WADi dengan memberi kredit kepada WADi. Jika itu membuatkan anda berasa keberatan (memberi kredit kepada WADi, maka anda tidak perlu berbuat demikian). Asalkan ilmu itu sampai kepada semua. Terpulang kredibiliti anda sebagai penulis.

7. Tidak ada copyright di WADi, apa yang ditulis disini adalah untuk disampaikan. Ilmu itu milik Allah.

8. Penulis merupakan insan biasa yang banyak kesilapannya termasuk ketika menulis. Jika anda terjumpa sebarang kekeliruan, kesilapan berkaitan permasalahan hukum, dalil, hadith, atsar dan sebagainya , sila maklumkan WADi melalui email. Teguran secara baik amat kami hargai.

9. Hubungi saya melalui email : addien90@yahoo.com

10. Selamat membaca, menimba ilmu dan menyebarkan ilmu.

Selasa, 7 Februari 2012

Mengenal Imam As-Syafie




السلام عليكم


Kali ini kita akan menyelusuri pula salasilah kehidupan Imam Mazhab yang ketiga iaitu Imam As-Syafie. Sebagaimana yang sudah kita sedia maklum, mazhab beliau diterima pakai di negara Malaysia oleh majoriti umat Islam dan nama beliau bukanlah sesuatu yang asing lagi bagi kita semua. Sebelum itu, bagi masih belum membaca riwayat hidup dua Imam Mazhab sebelum as-Syafie, dijemput membacanya, insyaAllah :

Mengenal Imam Abu Hanifah
Mengenal Imam Malik


Imam As-Syafie


Nama dan Nasab

Beliau bernama Muhammad dengan kuniyah (gelaran) Abu Abdillah. Nasab beliau secara lengkap adalah Muhammad bin Idris bin al-‘Abbas bin ‘Utsman bin Syafi‘ bin as-Saib bin ‘Ubayd bin ‘Abdu Zayd bin Hasyim bin al-Muththalib bin ‘Abdu Manaf bin Qushay. Nasab beliau bertemu dengan nasab Rasulullah pada diri ‘Abdu Manaf bin Qushay. Dengan begitu, beliau masih termasuk sanak kandung Rasulullah karena masih terhitung keturunan paman-jauh beliau , yaitu Hasyim bin al-Muththalib.

Bapak beliau, Idris, berasal dari daerah Tibalah (Sebuah daerah di wilayah Tihamah di jalan menuju ke Yaman). Dia seorang yang tidak berpunya. Awalnya dia tinggal di Madinah lalu berpindah dan menetap di ‘Asqalan (Kota tepi pantai di wilayah Palestina) dan akhirnya meninggal dalam keadaan masih muda di sana. Syafi‘, kakek dari kakek beliau, -yang namanya menjadi sumber penisbatan beliau (Syafi‘i)- menurut sebagian ulama adalah seorang sahabat shigar (junior) Nabi. As-Saib, bapak Syafi‘, sendiri termasuk sahabat kibar (senior) yang memiliki kemiripan fisik dengan Rasulullah saw. Dia termasuk dalam barisan tokoh musyrikin Quraysy dalam Perang Badar. Ketika itu dia tertawan lalu menebus sendiri dirinya dan menyatakan masuk Islam. 

Para ahli sejarah dan ulama nasab serta ahli hadits bersepakat bahwa Imam Syafi‘i berasal dari keturunan Arab murni. Imam Bukhari dan Imam Muslim telah memberi kesaksian mereka akan kevalidan nasabnya tersebut dan ketersambungannya dengan nasab Nabi, kemudian mereka membantah pendapat-pendapat sekelompok orang dari kalangan Malikiyah dan Hanafiyah yang menyatakan bahwa Imam Syafi‘i bukanlah asli keturunan Quraysy secara nasab, tetapi hanya keturunan secara wala’ saja.

Adapun ibu beliau, terdapat perbezaan pendapat tentang jati dirinya. Beberapa pendapat mengatakan dia masih keturunan al-Hasan bin ‘Ali bin Abu Thalib, sedangkan yang lain menyebutkan seorang wanita dari kabilah Azadiyah yang memiliki kun-yah (gelaran) Ummu Habibah. Imam an-Nawawi menegaskan bahawa ibu Imam Syafi‘i adalah seorang wanita yang tekun beribadah dan memiliki kecerdasan yang tinggi. Dia seorang yang faqih dalam urusan agama dan memiliki kemampuan melakukan istinbath hukum. (mengeluarkan hukum)


Waktu dan Tempat Kelahirannya

Beliau dilahirkan pada tahun 150H. Pada tahun itu pula, Abu Hanifah wafat sehingga dikomentari oleh al-Hakim sebagai isyarat bahwa beliau adalah pengganti Abu Hanifah dalam bidang yang ditekuninya.

Tentang tempat kelahirannya, banyak riwayat yang menyebutkan beberapa tempat yang berbeda. Akan tetapi, yang termasyhur dan disepakati oleh ahli sejarah adalah kota Ghazzah (Sebuah kota yang terletak di perbatasan wilayah Syam ke arah Mesir. Tepatnya di sebelah Selatan Palestina. Jaraknya dengan kota Asqalan sekitar dua farsakh= 11km ). Tempat lain yang disebut-sebut adalah kota Asqalan dan Yaman.

Ibnu Hajar memberikan penjelasan bahwa riwayat-riwayat tersebut dapat digabungkan dengan dikatakan bahwa beliau dilahirkan di sebuah tempat bernama Ghazzah di wilayah Asqalan. Ketika berumur dua tahun, beliau dibawa ibunya ke negeri Hijaz dan berbaur dengan penduduk negeri itu yang keturunan Yaman karena sang ibu berasal dari kabilah Azdiyah (dari Yaman). Lalu ketika berumur 10 tahun, beliau dibawa ke Mekkah, karena sang ibu khawatir nasabnya yang mulia lenyap dan terlupakan.



Pertumbuhannya dan Pengembaraannya Mencari Ilmu

Di Mekkah, Imam Syafi ‘i dan ibunya tinggal di dekat Syi‘bu al-Khaif. Di sana, sang ibu mengirimnya belajar kepada seorang guru. Sebenarnya ibunya tidak mampu untuk membiayainya, tetapi sang guru ternyata rela tidak dibayar setelah melihat kecerdasan dan kecepatannya dalam menghafal. Imam Syafi‘i bercerita, “Di al-Kuttab (sekolah tempat menghafal Alquran), saya melihat guru yang mengajar di situ membacakan murid-muridnya ayat Alquran, maka aku ikut menghafalnya. Sampai ketika saya menghafal semua yang dia katakan, dia berkata kepadaku, “Tidak halal bagiku mengambil upah sedikitpun darimu.” Dan ternyata kemudian dengan segera guru itu mengangkatnya sebagai penggantinya (mengawasi murid-murid lain) jika dia tidak ada. Demikianlah, belum lagi menginjak usia baligh, beliau telah berubah menjadi seorang guru.

Setelah rampung (selesai) menghafal Alquran di al-Kuttab, beliau kemudian beralih ke Masjidil Haram untuk menghadiri majeis-majlis ilmu di sana. Sekalipun hidup dalam kemiskinan, beliau tidak berputus asa dalam menimba ilmu. Beliau mengumpulkan pecahan tembikar, potongan kulit, pelepah kurma, dan tulang unta untuk dipakai menulis. Sampai-sampai tempayan-tempayan milik ibunya penuh dengan tulang-tulang, pecahan tembikar, dan pelepah kurma yang telah bertuliskan hadits-hadits Nabi. Dan itu terjadi pada saat beliau belum lagi berusia baligh. Sampai dikatakan bahwa beliau telah menghafal Alquran pada saat berusia 7 tahun, lalu membaca dan menghafal kitab Al-Muwaththa’ karya Imam Malik pada usia 12 tahun sebelum beliau berjumpa langsung dengan Imam Malik di Madinah.

Beliau juga tertarik mempelajari ilmu bahasa Arab dan syair-syairnya. Beliau memutuskan untuk tinggal di daerah pedalaman bersama suku Hudzail yang telah terkenal kefasihan dan kemurnian bahasanya, serta syair-syair mereka. Hasilnya, sekembalinya dari sana beliau telah berhasil menguasai kefasihan mereka dan menghafal seluruh syair mereka, serta mengetahui nasab orang-orang Arab, suatu hal yang kemudian banyak dipuji oleh ahli-ahli bahasa Arab yang pernah berjumpa dengannya dan yang hidup sesudahnya. Namun, takdir Allah telah menentukan jalan lain baginya. Setelah mendapatkan nasehat dari dua orang ulama, yaitu Muslim bin Khalid az-Zanji -mufti kota Mekkah-, dan al-Husain bin ‘Ali bin Yazid agar mendalami ilmu fqih, maka beliau pun tersentuh untuk mendalaminya dan mulailah beliau melakukan pengembaraannya mencari ilmu.

Beliau mengawalinya dengan menimbanya dari ulama-ulama kotanya, Mekkah, seperti Muslim bin Khalid, Dawud bin Abdurrahman al-‘Athar, Muhammad bin Ali bin Syafi’ –yang masih terhitung paman jauhnya-, Sufyan bin ‘Uyainah –ahli hadits Mekkah-, Abdurrahman bin Abu Bakar al-Maliki, Sa’id bin Salim, Fudhail bin ‘Iyadh, dan lain-lain. Di Mekkah ini, beliau mempelajari ilmu fiqih, hadits, lughoh, dan Muwaththa’ Imam Malik. Di samping itu beliau juga mempelajari keterampilan memanah dan menunggang kuda sampai menjadi mahir sebagai realisasi pemahamannya terhadap ayat 60 surat Al-Anfal. Bahkan dikatakan bahwa dari 10 panah yang dilepasnya, 9 di antaranya pasti mengena sasaran.

Setelah mendapat izin dari para syaikh-nya untuk berfatwa, timbul keinginannya untuk mengembara ke Madinah, Dar as-Sunnah, untuk mengambil ilmu dari para ulamanya. Terlebih lagi di sana ada Imam Malik bin Anas, penyusun al-Muwaththa’. Maka berangkatlah beliau ke sana menemui sang Imam. Di hadapan Imam Malik, beliau membaca al-Muwaththa’ yang telah dihafalnya di Mekkah, dan hafalannya itu membuat Imam Malik kagum kepadanya. Beliau menjalani mulazamah (berguru) kepada Imam Malik demi mengambil ilmu darinya sampai sang Imam wafat pada tahun 179. Di samping Imam Malik, beliau juga mengambil ilmu dari ulama Madinah lainnya seperti Ibrahim bin Abu Yahya, ‘Abdul ‘Aziz ad-Darawardi, Athaf bin Khalid, Isma‘il bin Ja‘far, Ibrahim bin Sa‘d dan masih banyak lagi.

Setelah kembali ke Mekkah, beliau kemudian melanjutkan mencari ilmu ke Yaman. Di sana beliau mengambil ilmu dari Mutharrif bin Mazin dan Hisyam bin Yusuf al-Qadhi, serta yang lain. Namun, berawal dari Yaman inilah beliau mendapat cobaan –satu hal yang selalu dihadapi oleh para ulama, sebelum maupun sesudah beliau-. Di Yaman, nama beliau menjadi tenar karena sejumlah kegiatan dan kegigihannya menegakkan keadilan, dan ketenangannya itu sampai juga ke telinga penduduk Mekkah. Lalu, orang-orang yang tidak senang kepadanya akibat kegiatannya tadi mengadukannya kepada Khalifah Harun ar-Rasyid, Mereka menuduhnya hendak mengobarkan pemberontakan bersama orang-orang dari kalangan Alawiyah.

Sebagaimana dalam sejarah, Imam Syafi‘i hidup pada masa-masa awal pemerintahan Bani ‘Abbasiyah yang berhasil merebut kekuasaan dari Bani Umayyah. Pada masa itu, setiap khalifah dari Bani ‘Abbasiyah hampir selalu menghadapi pemberontakan orang-orang dari kalangan ‘Alawiyah. Kenyataan ini membuat mereka bersikap sangat kejam dalam memadamkan pemberontakan orang-orang ‘Alawiyah yang sebenarnya masih saudara mereka sebagai sesama Bani Hasyim. Dan hal itu menggoreskan rasa sedih yang mendalam pada kaum muslimin secara umum dan pada diri Imam Syafi‘i secara khusus. Dia melihat orang-orang dari Ahlu Bait Nabi menghadapi musibah yang tegas dari penguasa. Maka berbeza dengan sikap ahli fqih selainnya, beliau pun menampakkan secara terang-terangan rasa cintanya kepada mereka tanpa rasa takut sedikitpun, suatu sikap yang saat itu akan membuat pemiliknya merasakan kehidupan yang sangat sulit.

Sikapnya itu membuatnya dituduh sebagai orang yang bersikap tasyayyu‘ (sikap ahli syiah), padahal sikapnya sama sekali berbeda dengan tasysyu’ model orang-orang syi‘ah. Bahkan Imam Syafi‘i menolak keras sikap tasysyu’ model mereka itu yang meyakini keimaman Abu Bakar, Umar, serta ‘Utsman , dan hanya meyakini keimaman Ali, serta meyakini kemaksuman para imam mereka. Sedangkan kecintaan beliau kepada Ahlu Bait adalah kecintaan yang didasari oleh perintah-perintah yang terdapat dalam Alquran maupun hadits-hadits shahih. Dan kecintaan beliau itu ternyata tidaklah lantas membuatnya dianggap oleh orang-orang syiah sebagai ahli fqih madzhab mereka.

Tuduhan dusta yang diarahkan kepadanya bahwa dia hendak mengobarkan pemberontakan, membuatnya ditangkap, lalu dihantar ke Baghdad dalam keadaan dibelenggu dengan rantai bersama sejumlah orang-orang ‘Alawiyah. Beliau bersama orang-orang ‘Alawiyah itu dihadapkan ke hadapan Khalifah Harun ar-Rasyid. Khalifah menyuruh bawahannya menyiapkan pedang dan hamparan kulit. Setelah memeriksa mereka seorang demi seorang, ia menyuruh pegawainya memenggal kepala mereka. Ketika sampai pada gilirannya, Imam Syafi‘i berusaha memberikan penjelasan kepada Khalifah. Dengan kecerdasan dan ketenangannya serta pembelaan dari Muhammad bin al-Hasan -ahli fiqh Irak-, beliau berhasil meyakinkan Khalifah tentang ketidakbenaran apa yang dituduhkan kepadanya. Akhirnya beliau meninggalkan majelis Harun ar-Rasyid dalam keadaan bersih dari tuduhan bersekongkol dengan ‘Alawiyah dan mendapatkan kesempatan untuk tinggal di Baghdad.

Di Baghdad, beliau kembali pada kegiatan asalnya, mencari ilmu. Beliau meneliti dan mendalami madzhab Ahlu Ra’yu (ahli pemikir/ilmuan). Untuk itu beliau berguru dengan mulazamah kepada Muhammad bin al-Hassan. Selain itu, kepada Isma‘il bin ‘Ulayyah dan Abdul Wahhab ats-Tsaqafiy dan lain-lain. Setelah meraih ilmu dari para ulama Irak itu, beliau kembali ke Mekkah pada saat namanya mulai dikenal. Maka mulailah ia mengajar di tempat dahulu ia belajar. Ketika musim haji tiba, ribuan jamaah haji berdatangan ke Mekkah. Mereka yang telah mendengar nama beliau dan ilmunya yang mengagumkan, bersemangat mengikuti pengajarannya sampai akhirnya nama beliau makin dikenal luas. Salah satu di antara mereka adalah Imam Ahmad bin Hanbal. 

Ketika kamasyhurannya sampai ke kota Baghdad, Imam Abdurrahman bin Mahdi mengirim surat kepada Imam Syafi‘i memintanya untuk menulis sebuah kitab yang berisi khabar-khabar yang maqbul (diterima), penjelasan tentang nasikh dan mansukh (ayat yang membatal/menggantikan hukum terdahulu) dari ayat-ayat Alquran dan lain-lain. Maka beliau pun menulis kitabnya yang terkenal, Ar-Risalah.

Setelah lebih dari 9 tahun mengajar di Mekkah, beliau kembali melakukan perjalanan ke Iraq untuk kedua kalinya dalam rangka menolong madzhab Ash-habul Hadits di sana. Beliau mendapat sambutan meriah di Baghdad karena para ulama besar di sana telah menyebut-nyebut namanya. Dengan kedatangannya, kelompok Ash-habul Hadits merasa mendapat angin segar karena sebelumnya mereka merasa didominasi oleh Ahlu Ra’yi. Sampai-sampai dikatakan bahwa ketika beliau datang ke Baghdad, di Masjid Jami ‘ al-Gharbi terdapat sekitar 20 halaqah Ahlu Ra ‘yu (ahli pemikir/ilmuan). Tetapi ketika hari Jumat tiba, yang tersisa hanya 2 atau 3 halaqah saja. 

Beliau menetap di Irak selama dua tahun, kemudian pada tahun 197 beliau balik ke Mekkah. Di sana beliau mulai menyebar madzhabnya sendiri. Maka datanglah para penuntut ilmu kepadanya meneguk dari lautan ilmunya. Tetapi beliau hanya berada setahun di Mekkah.

Tahun 198, beliau berangkat lagi ke Iraq. Namun, beliau hanya beberapa bulan saja di sana karena telah terjadi perubahan politik. Khalifah al-Makmun telah dikuasai oleh para ulama ahli kalam, dan terjebak dalam pembahasan-pembahasan tentang ilmu kalam. Sementara Imam Syafi‘i adalah orang yang paham betul tentang ilmu kalam (ilmu logik berkaitan ketuhanan). Beliau tahu bagaimana pertentangan ilmu ini dengan manhaj as-salaf ash-shaleh –yang selama ini dipegangnya- di dalam memahami masalah-masalah syariat. Hal itu karena orang-orang ahli kalam menjadikan akal sebagai patokan utama dalam menghadapi setiap masalah, menjadikannya rujukan dalam memahami syariat padahal mereka tahu bahwa akal juga memiliki keterbatasan-keterbatasan. Beliau tahu betul kebencian meraka kepada ulama ahlu hadits. Karena itulah beliau menolak madzhab mereka.

Dan begitulah kenyataannya. Provokasi mereka membuat Khalifah mendatangkan banyak musibah kepada para ulama ahlu hadits. Salah satunya adalah yang dikenal sebagai Yaumul Mihnah, ketika dia mengumpulkan para ulama untuk menguji dan memaksa mereka menerima paham Alquran itu makhluk. Akibatnya, banyak ulama yang masuk penjara, bila tidak dibunuh. Salah satu di antaranya adalah Imam Ahmad bin Hanbal. Karena perubahan itulah, Imam Syafi‘i kemudian memutuskan pergi ke Mesir. Sebenarnya hati kecilnya menolak pergi ke sana, tetapi akhirnya ia menyerahkan dirinya kepada kehendak Allah. Di Mesir, beliau mendapat sambutan masyarakatnya. Di sana beliau berdakwah, menebar ilmunya, dan menulis sejumlah kitab, termasuk merevisi kitabnya ar-Risalah, sampai akhirnya beliau menemui akhir kehidupannya di sana.


Keteguhannya Membela Sunnah

Sebagai seorang yang mengikuti manhaj Ash-habul Hadits, beliau dalam menetapkan suatu masalah terutama masalah aqidah selalu menjadikan Alquran dan Sunnah Nabi sebagai landasan dan sumber hukumnya. Beliau selalu menyebutkan dalil-dalil dari keduanya dan menjadikannya hujjah dalam menghadapi penentangnya, terutama dari kalangan ahli kalam. Beliau berkata, “Jika kalian telah mendapatkan Sunnah Nabi, maka ikutilah dan janganlah kalian berpaling mengambil pendapat yang lain.” Karena komitmennya mengikuti sunnah dan membelanya itu, beliau mendapat gelar Nashir as-Sunnah wa al-Hadits. 

Terdapat banyak atsar (kata-kata sahabat) tentang ketidaksukaan beliau kepada Ahli Ilmu Kalam, mengingat perbedaan manhaj beliau dengan mereka. Beliau berkata, “Setiap orang yang berbicara (mutakallim) dengan bersumber dari Alquran dan sunnah, maka ucapannya adalah benar, tetapi jika dari selain keduanya, maka ucapannya hanyalah igauan belaka.” Imam Ahmad berkata, “Bagi Syafi‘i jika telah yakin dengan keshahihan sebuah hadits, maka dia akan menyampaikannya. Dan prilaku yang terbaik adalah dia tidak tertarik sama sekali dengan ilmu kalam, dan lebih tertarik kepada fiqih.” Imam Syafi ‘i berkata, “Tidak ada yang lebih aku benci daripada ilmu kalam dan ahlinya” Al-Mazani berkata, “Merupakan madzhab Imam Syafi‘i membenci kesibukan dalam ilmu kalam. Beliau melarang kami sibuk dalam ilmu kalam.” 

Ketidaksukaan beliau sampai pada tingkat memberi fatwa bahwa hukum bagi ahli ilmu kalam adalah dipukul dengan pelepah kurma, lalu dinaikkan ke atas punggung unta dan digiring berkeliling di antara kabilah-kabilah dengan mengumumkan bahwa itu adalah hukuman bagi orang yang meninggalkan Alquran dan Sunnah dan memilih ilmu kalam.


Wafatnya

Karena kesibukannya berdakwah dan menebar ilmu, beliau menderita penyakit bawasir yang selalu mengeluarkan darah. Makin lama penyakitnya itu bertambah parah hingga akhirnya beliau wafat karenanya. Beliau wafat pada malam Jumat setelah shalat Isya’ hari terakhir bulan Rajab permulaan tahun 204 dalam usia 54 tahun. Semoga Allah memberikan kepadanya rahmat-Nya yang luas.

Ar-Rabi menyampaikan bahwa dia bermimpi melihat Imam Syafi‘i, sesudah wafatnya. Dia berkata kepada beliau, “Apa yang telah diperbuat Allah kepadamu, wahai Abu Abdillah ?” Beliau menjawab, “Allah mendudukkan aku di atas sebuah kursi emas dan menaburkan pada diriku mutiara-mutiara yang halus”



Karangan-Karangan dan Karyanya

Sekalipun beliau hanya hidup selama setengah abad dan kesibukannya melakukan perjalanan jauh untuk mencari ilmu, hal itu tidaklah menghalanginya untuk menulis banyak kitab. Jumlahnya menurut Ibnu Zulaq mencapai 200 bagian, sedangkan menurut al-Marwaziy mencapai 113 kitab tentang tafsir, fiqih, adab dan lain-lain. Yaqut al-Hamawi mengatakan jumlahnya mencapai 174 kitab yang judul-judulnya disebutkan oleh Ibnu an-Nadim dalam al-Fahrasat. Yang paling terkenal di antara kitab-kitabnya adalah al-Umm, yang terdiri dari 4 jilid berisi 128 masalah, dan ar-Risalah al-Jadidah (yang telah direvisinya) mengenai Alquran dan As-Sunnah serta kedudukannya dalam syariat.

Sumber :
1. Al-Umm, bagian muqoddimah hal 3-33.
2. Siyar A‘lam an-Nubala’
3. Manhaj Aqidah Imam asy-Syafi‘, terjemah kitab Manhaj al-Imam Asy-Syafi ‘i fi Itsbat al-‘Aqidah karya DR. Muhammad AW al-Aql terbitan Pustaka Imam Asy-Syafi‘i, Cirebon.


Glosari:




kun-yah/ kuniyah : Gelaran

istinbath : mengeluarkan

farsakh: unit jarak, 1 farsakh bersamaan 5.5 km

rampung: selesai, usai

mulazamah: berguru

tasyayyu‘: sikap ahli syiah

maqbul : diterima

nasikh dan mansukh : berkenanaan nas yang terbatal, mengantikan nas yang sedia ada

Ahlu Ra’yi : Ahli pemikir/ilmuan

atsar : kata-kata sahabat



والله أعلمُ بالـصـواب

14 ulasan:

  1. Assalamualaikum WADi,

    nak tanya sikit ni..betulkah ni syarat-syarat jadi imam?
    1.Qari
    2.Arif dalam permasalahan solat
    3.Siapa lagi tua.
    4.Siapa paling handsome.
    5.Isteri paling cantik.

    betulkah syarat-syarat ni?...harap dpt jawab...insyaAllah..

    BalasPadam
    Balasan
    1. waalaikumussalam ya sahabah, awat tak tanya di forum??

      jawapan saya :syarat di atas tidak tepat/ batil

      syarat menjadi Imam:

      1. Islam
      2. Baligh
      3. Yang paling arif dalam al-Quran
      4. Yang paling baik dalam sunnah/ fiqh etc..

      jika berselisih, dahulukan orang tua


      al-Dalil:

      1. diriwayatkan oleh Abu Mas'ud alAnsari ra bhw Rasulullah saw bersabda yg bermaksud, "orang yang lebih byk hafaz alQuran di kalangan kamu mengimamkan org ramai. Sekiranya mereka sama2 menghafaz lQuran, maka yg lebih mengetahui sunnah, sekiranya sama2 memahami sunnah, maka mereka yg lebih dahulu berhijrah. Sekiranya mereka sama2 berhijrah, maka mereka yg lebih dahulu masuk Islam. Dan seseorang tidak mengimamkan seseorang yg berkuasa drpdnya. Dan tidak duduk di tempat yg dikhususkan oleh tuan rumah utk tetamu melainkan dengan izinnya. [HR Ibn Abi Syaibah. Dalam riwayat Abi Daud "orang yg lebih tua" digantikan pada "orang yg lebih awal masuk Islam".]

      wallahua'lam

      Padam
    2. lupa..hehe tapi takpa, kat sini boleh lagi en..

      cuba tengok link ni: and tengok isi kandungan dalam penceritaan..jika salah, patut ditegur bukan?...

      http://www.youtube.com/watch?v=WA2Dd6eJWHg

      Padam
    3. sebentar saya tengok, berat sikit nak buka youtube ni..hehe..loading lama..

      p/s- syikin buka tread di forum ye, dalam bab fiqh..tafadhal (silakan)

      Padam
  2. Assalamualaikum dik..

    Subhanallah.. panjang lebar dan detail penerangan tentang Imam Syafie..

    Akak baca dari permulaan kata sehingga ke akhirnya..

    Ulasannya padat.. namun begitu akak kurang pemahaman berkaitan dengan istilah-istilah yang digunakan..

    Antaranya adalah :

    kun-yah

    istinbath

    farsakh

    rampung

    mulazamah

    tasyayyu‘

    digelandang

    maqbul

    nasikh dan mansukh

    Ahlu Ra’yi

    atsar

    Satu lagi.. ilmu kalam tu ilmu ape?

    p/s : andai boleh menulis dalam bahasa yang ringkas dan mudah difahami.. pasti lagi memudahkan orang untuk memahaminya.. mohon yer dik.. akak berminat untuk mengetahui.. biasanya penulisan keagamaan lebih menggunakan bahasa tinggi yang sukar untuk orang kebanyakan memahaminya.. maka niatnya tidak kesampaian jika tidak mampu difahami..

    mohon maaf andai tersalah bicara..

    BalasPadam
    Balasan
    1. jazakallah atas komentar dari akak, memang kebanyakan bacaan agama ada term-term yang kurang difahami oleh kebanyakan orang, term-term ini memang tema dalam penulisan agama, dan ialah yang menjadi kelainan berbanding penulisan selain agama. :) Maaf sebab saya terlupa letak terjemahanya, insyaAllah saya cuba setakat yang saya mampu.


      sudah diedit dan ditambah untuk memudahkan bacaan, jemput ulang bacaan untuk lebih kefahaman ye :)

      Padam
  3. Assalamualaikum wbt
    Sekadar muzakarah saja.
    Imam Syafie rhm.a. merupakan imam mazhab. Ini bermakna sesiapa yang mengikuti pegangannya merupakan mazhab syafiiyah. Persoalan sekarang mazhab itu apa? Adakah org skrg bermazhab atau berfirqah atau bertaqlid?
    Kata dasar mazhab diambil dari pktaan `zahaba` bermaksud ia telah mengikuti. Hal ini terpaksa merujuk kpd Usul AlFiqh. Apabila kita beriman dgn AlQuran tanpa ragu2 bermakna kita beriman dgn setiap huruf dan kalimahnya. Surah Al`Araaf:158 فَآمِنُوا بِاللَّـهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّـهِ وَكَلِمَاتِهِ Oleh itu, berimanlah kamu kepada Allah dan RasulNya, Nabi yang Ummi yang beriman kepada Allah dan Kalimah-kalimahNya (Kitab-kitabNya).
    Oleh kerana kita beriman setiap kalimah AlQuran , maka terdapat 2 jenis iaitu ayat muhkamat dan ayat mutasyabihat yg mesti diimani. Surah AliImran:7 هُوَ الَّذِي أَنزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُّحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ

    Dalam Istinbat hukum dari segi Usul AlFiqh pula, ayat AlQuran dan Hadis mutawatir merupakan Ketetapan putus dimana mengingari satu huruf darinya adalah kufur. Sebagaimana kata Saidina Ali kwjh.`Barangsiap kufur dengan satu huruf, bermakna ia telah kufur seluruh ayat AlQuran`. Pada ayat muhkamat, tidak ada keraguan dari segi imam mazhab dan telah bersepakat kesemuanya kerana ayat yang jelas tidak memerlukan pentakwilan. Ini dinamakan dalil putus dari ketetapan putus. Tetapi apabila berhadapan dgn ayat mutasyabihat yang mempunyai lebih dari 2 makna, maka perlu pentakwilan dari Imam Mazhab yang rosikh dlm ilmunya. Ini dinamakan dalil dzon dari ketetapan putus. Surah AliImran:7 وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّـهُ ۗ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا . Padahal tidak ada yang mengetahui Takwilnya (tafsir maksudnya yang sebenar) melainkan Allah. Dan orang-orang yang tetap teguh serta mendalam pengetahuannya dalam ilmu-ilmu ugama, berkata:" Kami beriman kepadanya, semuanya itu datangnya dari sisi Tuhan kami"

    Imam2 mazhab akan keluar dgn membawa hadis Ahaad yang lebih arjih untuk membahaskan ayat mutasyabihat tersebut. Masing2 menunjukkan hadis dgn sanad untuk membenarkan ayat AlQuran tersebut. Ini bermakna bermazhab adalah wajib pada semua orang dan kita hendaklah mengetahui dimanakah Imam Mazhab tersebut mengambil hadis sebagai `istidlal`. Untuk permulaan zaman kanak2 oklah tetapi setelah kita mencapai baligh kita bertanggung-jawab setiap yang kita lakukan. Surah AlQiyammah:14-15 بَلِ الْإِنسَانُ عَلَىٰ نَفْسِهِ بَصِيرَةٌ ﴿١٤﴾ وَلَوْ أَلْقَىٰ مَعَاذِيرَهُ Bahkan manusia itu, (anggotanya) menjadi saksi terhadap dirinya sendiri,.15. Walaupun ia memberikan alasan-alasannya (untuk membela diri).
    Belajarlah sedikit demi sedikit dan prinsipnya jika tidak mengetahui, maka tanyalah pada orang2 alim. Apa yang menakutkan kita ialah kita akan dibangkitkan bersama2 dgn Imam2 yang kita anuti dalam apa jua keputusan kita lakukan. Surah Isra:71 يَوْمَ نَدْعُو كُلَّ أُنَاسٍ بِإِمَامِهِمْ ۖ (Ingatlah) hari Kami menyeru tiap-tiap kumpulan manusia dengan nama imamnya.

    Kalaulah dia tidak tahu apa yang dia ikut, bagaimanakah imam2 tersebut mengakui anak muridnya? Kalaulah seseorang itu melakukan maksiat, merompak, mencuri dsb, adakah ia dinamakan masih bermazhab? Wallahualam

    BalasPadam
    Balasan
    1. jazakallah atas komentar ustazah,

      isu taqlid dan talfiq ini baik untuk difahami, insyaAllah

      Padam
  4. salam..
    Subhanallah..penuh dengan ilmu
    moga di berkati Allah empunya blog
    ini..teruskanlah berblog..moga sampai
    apa yang baik kepada pembaca semua..

    BalasPadam
    Balasan
    1. waalaikumussalam warahmatullah,
      Alhamdulillah, haza min fadli rabbi..
      ini adalah kurniaan Tuhanku..

      blog akhi juga banyak info dan perkara yang saya dapatkan,
      insyaAllah, saya akan terus menyebarkan ilmu untuk diri dan Ummah, moga kita dalam redhaNya :)

      Padam
  5. Assalamualaikum....

    akka suka baca sebenarnya tentang kisah sirah macam ni, lagi pun belajar tentang Imam As-Syafie, belum khatam lagi...masih banyak lagi hadis2nya belum hafal..semoga Allah memberi hati yg lapang pada kita semua untuk lebih mengenali tokoh2 besar ini dan yang lain2 InsyaAllah

    BalasPadam
    Balasan
    1. Alhamdulillah, moga blog WADi memberi sedikit sebanyak input yang akak sukai ini, akak ambil pengajian Islam kah?

      amin, moga kita semua dalam jagaanNya, banyak lagi kibar ulama' yang ada, hanya saja mereka kurang dikenali sebagaimana imam yang empat :)

      insyaAllah nanti akan saya nukilkan buat manfaat bersama :)

      Padam
  6. terima kasih dik..

    untuk entry seterusnya nanti gune bhs mudah ek..
    mudah sikit untuk akak dan sahabat2 yang luar drp bidang keagamaan untuk memahaminya..

    BalasPadam
    Balasan
    1. afwan ya ukhti, terima kasih atas saranan..
      memang penulisan saya guna bahasa mudah, kebetulan entri ini saya tak habis edit, jemput baca penulisan yang lainnya ye..walaupun bahasanya mudah, tapi sebenarnya ia dari kitab-kitab yang besar juga, cuma saya guna bahasa mudah,

      syukran atas cadangan itu, sangat-sangat membantu :)

      Padam

Perbincangan Ilmiah WADi dan Anda
World of Ad-Dien (WADi)

Klik Hadiah

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...